Sabtu, 08 Februari 2014

Pasar Malam


Selalu, setiap hari, kota ini hidup dengan warna-warni monokrom yang membosankan. Jika kau pernah melihat foto hitam-putih atau sephia dari tahun-tahun silam, entah milikmu atau milik bapak-ibumu, yang tanpa sengaja kau temukan, itulah deskripsi terbaik yang bisa aku lakukan untuk menggambarkan betapa membosankan kota tempat ku tinggal. Tak ada warna-warni artifisial yang acap kali kau temukan pada permen-permen murahan yang membuat radang tenggorokan, tak ada editan-editan dari  pixlr-o-matic, camera 360, atau photoshop yang membuat gambar jadi menawan. Semua tampak biasa saja. Hampir semua berwarna pastel. Hampir semua didominasi hitam-putih, kalau bukan sephia.

Meskipun kota ku demikian membosankan, aku betah juga tinggal di sini. Setiap sore, aku selalu membunuh sepi dengan berkunjung ke tanah lapang yang secara tidak resmi dijadikan bocah-bocah badung pencinta sepak bola sebagai tempat berlatih mereka. Jeritan-jeritan yang keluar dari mulut bocah-bocah itu adalah lantunan nada-nada yang sedap bagi hari-hariku yang senyap.

Hari ini pun tak jauh berbeda dengan hari-hari yang telah ku jalani sebelum, dan sebelumnya, lalu sebelumnya, dan beberapa tahun sebelumnya lagi di kota ini. Seperti biasa, tepat pukul 4, aku keluar dari rumah tanpa pernah lupa berpamitan terlebih dahulu pada ibu yang kerentaannya—entah bagaimana bisa—luput dari perhatianku. Tiga puluh menit kemudian aku sampai di tanah lapang yang secara sepihak diklaim sebagai lapangan latihan sepak bola oleh bocah-bocah setempat. Heran betul aku saat warna merah-hijau pucat tanah merah dan rerumputan di tanah lapang ini tak menyambut kehadiranku. Warna-warna yang dipoles secukupnya oleh alam berubah semarak. Tenda-tenda berwarna jalang. Lampu kelap-kelip. Me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Lagu anak-anak, lagu rock, lagu pop, hingga lagu dangdut murahan menyalak bersahutan memekakkan telinga.

“Hei! Mahmud!” 

Seseorang menyerukan namaku. Seorang bocah yang ku terka berusia lebih muda setahun-dua tahun dariku, berjalan mendekat dengan wajah sumringah seperti baru mendapatkan hadiah. Otakku bekerja dengan kecepatan penuh untuk mengingat anak ini. Namanya Ali.

“Masuklah bersama! Ini juga pertama kalinya aku datang ke pasar malam,” ujarnya.

Ragu aku mengikuti Ali, tetapi hasrat untuk melihat warna-warna yang lebih kaya daripada sekedar warna monokrom di kota yang membosankan ini membuat aku turut juga.

Begitu memasuki pasar malam, aroma mentega merasuki indra penciumanku. Beberapa stan-stan masakan terlihat sibuk melayani pembeli. Seorang perempuan berkostum aneh menghampiriku dan menawarkan berondong jagung warna-warni. Ada hijau, kuning, dan merah muda. Terlihat sangat menarik untuk dicicipi. Akan tetapi, wajah perempuan ini lebih menarik lagi. Bulu matanya panjang menjuntai-juntai seperti hendak menggeletik, bibirnya merah darah, rambut panjangnya berwarna kuning keemasan dan tampak kaku, ia tersenyum ke arahku, tetapi senyumnya juga terlihat janggal. Belum selesai aku mengamati si gadis pelangi, Ali menarikku. Ia bilang ada permainan seru. Namanya komedi putar.

Ali menggringiku menerabas kerumunan-kerumunan pengunjung untuk mencari wahana komedi putar. Ia berhenti ketika seorang pria jangkung yang jangkungnya dua atau tiga kali lipat dari tinggi badanku lewat sambil melempar-lempar botol-botol berwarna neon ke udara. Kami berdua, Ali lebih tepatnya, berbaur di dalam kerumunan pengunjung yang berhasrat melihat si pria jangkung ini. Pengunjung pasar malam, termasuk Ali tergelak-gelak dan bertepuk tangan setelah pria jangkung itu sukses memamerkan aksinya. Laki-laki ini tak jauh berbeda dengan si gadis gelangi tadi. Semua warna yang ada pada tubuhnya menyala-nyala.

“Komedi putar!” jerit Ali kegirangan.

Ia langsung melepaskan jemari mungilnya pada lenganku dan langsung berlari penuh semangat ke arah tenda dengan kuda-kudaan kayu berputar yang ia yakini sebagai komedi putar. Aku memandangi punggungnya yang berguncang ke kanan dan kiri mengikuti gerak tubuh.

“Tinggal satu tempat! Tinggal satu tempat!” seorang laki-laki berdandanan usang berteriak-teriak ke segala penjuru seperti memberi peringatan. 

Ali tergopoh-gopoh datang dan membayarkan sejumlah uang yang aku yakin ia dapat hasil merajuk dan merengek-rengek pada ibunya yang baik hati. Komedi putar itu mulai berjalan. Selalu ada suara berderit saat wahana itu bergerak-gerak dengan tidak stabil. Meski cemas akan keselamatan Ali di tangan wahana bertajuk komedi putar itu, aku putuskan untuk beranjak untuk melihat-lihat tempat yang lain.

“Limun, kakak!” 

Seorang remaja menyodorkan minuman berwarna-warni lagi padaku. Aku menggeleng. Tempat ini lama-lama menyakiti pengelihatanku. Warna-warna ini, bunyi-bunyian ini. Semua rasanya tidak pada tempat. Semuanya serba berlebih, seperti menyantap opor ayam kelebihan santan. Seperti minum teh yang kebanyakan gula. Memuakkan.

BRAK!

Sontak aku menoleh ke arah komedi putar yang putarannya entah kenapa selalu tidak stabil. Pada detik itu juga aku menjerit.

***

Warna-warna kembali seperti semula. Monokrom sejati yang menjemukan lebih nikmat dari sekadar warna-warna artifisial yang sekejap bisa lenyap. Pasar malam tak pernah sungguhan menawarkan kesenangan. Ia ada bukan untuk melepas penat. Ia ada untuk memintamu berpikir.

Di tanah lapang yang permukaannya semula datar itu ada sebuah gundukan kecil dilapis rumput gajah hijau yang segar. Sebuah papan bercat putih ditancapkan sebagai penanda. Berkunjung ke gundukan itu sekarang, sudah jadi kebiasaan baru bagiku. Setiap sore, bocah-bocah setempat masih tetap bermain bola dan aku sebagai penonton setia selalu datang untuk menikmati permainan serta lantunan nada pemecah senyap lewat jeritan-jeritan mereka. Bedanya, dahulu aku memandangi mereka sendirian, tetapi kini dari perut gundukan berlapis rumput segar itu seseorang menemaniku. Seseorang yang akan selalu ku kenang sebagai simbol kemawasdirian untuk tidak terlena pada hal-hal semu. Bahwa monokrom sejati lebih layak untuk dinikmati ketimbang warna-warni tak alami. Bahwa yang kekal adalah sunyi.

Ali sekarang pasti lebih mengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar