Selalu, setiap hari, kota ini hidup dengan warna-warni
monokrom yang membosankan. Jika kau pernah melihat foto hitam-putih atau sephia
dari tahun-tahun silam, entah milikmu atau milik bapak-ibumu, yang tanpa
sengaja kau temukan, itulah deskripsi terbaik yang bisa aku lakukan untuk
menggambarkan betapa membosankan kota tempat ku tinggal. Tak ada warna-warni
artifisial yang acap kali kau temukan pada permen-permen murahan yang membuat
radang tenggorokan, tak ada editan-editan dari
pixlr-o-matic, camera 360, atau photoshop yang membuat gambar jadi
menawan. Semua tampak biasa saja. Hampir semua berwarna pastel. Hampir semua
didominasi hitam-putih, kalau bukan sephia.
Meskipun
kota ku demikian membosankan, aku betah juga tinggal di sini. Setiap sore, aku
selalu membunuh sepi dengan berkunjung ke tanah lapang yang secara tidak resmi
dijadikan bocah-bocah badung pencinta sepak bola sebagai tempat berlatih
mereka. Jeritan-jeritan yang keluar dari mulut bocah-bocah itu adalah lantunan
nada-nada yang sedap bagi hari-hariku yang senyap.
Hari ini pun tak jauh berbeda dengan hari-hari yang telah ku
jalani sebelum, dan sebelumnya, lalu sebelumnya, dan beberapa tahun sebelumnya
lagi di kota ini. Seperti biasa, tepat pukul 4, aku keluar dari rumah tanpa
pernah lupa berpamitan terlebih dahulu pada ibu yang kerentaannya—entah
bagaimana bisa—luput dari perhatianku. Tiga puluh menit kemudian aku sampai di
tanah lapang yang secara sepihak diklaim sebagai lapangan latihan sepak bola
oleh bocah-bocah setempat. Heran betul aku saat warna merah-hijau pucat tanah
merah dan rerumputan di tanah lapang ini tak menyambut kehadiranku. Warna-warna
yang dipoles secukupnya oleh alam berubah semarak. Tenda-tenda berwarna jalang.
Lampu kelap-kelip. Me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Lagu anak-anak, lagu rock, lagu pop,
hingga lagu dangdut murahan menyalak bersahutan memekakkan telinga.
“Hei! Mahmud!”
Seseorang menyerukan namaku. Seorang bocah
yang ku terka berusia lebih muda setahun-dua tahun dariku, berjalan mendekat
dengan wajah sumringah seperti baru mendapatkan hadiah. Otakku bekerja dengan
kecepatan penuh untuk mengingat anak ini. Namanya Ali.
“Masuklah bersama! Ini juga pertama kalinya aku datang ke
pasar malam,” ujarnya.
Ragu aku mengikuti Ali, tetapi hasrat untuk melihat
warna-warna yang lebih kaya daripada sekedar warna monokrom di kota yang
membosankan ini membuat aku turut juga.
Begitu memasuki pasar malam, aroma mentega merasuki indra
penciumanku. Beberapa stan-stan masakan terlihat sibuk melayani pembeli.
Seorang perempuan berkostum aneh menghampiriku dan menawarkan berondong jagung
warna-warni. Ada hijau, kuning, dan merah muda. Terlihat sangat menarik untuk
dicicipi. Akan tetapi, wajah perempuan ini lebih menarik lagi. Bulu matanya
panjang menjuntai-juntai seperti hendak menggeletik, bibirnya merah darah,
rambut panjangnya berwarna kuning keemasan dan tampak kaku, ia tersenyum ke
arahku, tetapi senyumnya juga terlihat janggal. Belum selesai aku mengamati si
gadis pelangi, Ali menarikku. Ia bilang ada permainan seru. Namanya komedi
putar.
Ali menggringiku menerabas kerumunan-kerumunan pengunjung
untuk mencari wahana komedi putar. Ia berhenti ketika seorang pria jangkung
yang jangkungnya dua atau tiga kali lipat dari tinggi badanku lewat sambil
melempar-lempar botol-botol berwarna neon ke udara. Kami berdua, Ali lebih
tepatnya, berbaur di dalam kerumunan pengunjung yang berhasrat melihat si pria
jangkung ini. Pengunjung pasar malam, termasuk Ali tergelak-gelak dan bertepuk
tangan setelah pria jangkung itu sukses memamerkan aksinya. Laki-laki ini tak
jauh berbeda dengan si gadis gelangi tadi. Semua warna yang ada pada tubuhnya
menyala-nyala.
“Komedi putar!” jerit Ali kegirangan.
Ia langsung melepaskan
jemari mungilnya pada lenganku dan langsung berlari penuh semangat ke arah
tenda dengan kuda-kudaan kayu berputar yang ia yakini sebagai komedi putar. Aku
memandangi punggungnya yang berguncang ke kanan dan kiri mengikuti gerak tubuh.
“Tinggal satu tempat! Tinggal satu tempat!” seorang laki-laki
berdandanan usang berteriak-teriak ke segala penjuru seperti memberi
peringatan.
Ali tergopoh-gopoh datang dan membayarkan sejumlah uang yang aku
yakin ia dapat hasil merajuk dan merengek-rengek pada ibunya yang baik hati.
Komedi putar itu mulai berjalan. Selalu ada suara berderit saat wahana itu
bergerak-gerak dengan tidak stabil. Meski cemas akan keselamatan Ali di tangan
wahana bertajuk komedi putar itu, aku putuskan untuk beranjak untuk
melihat-lihat tempat yang lain.
“Limun, kakak!”
Seorang remaja menyodorkan minuman
berwarna-warni lagi padaku. Aku menggeleng. Tempat ini lama-lama menyakiti
pengelihatanku. Warna-warna ini, bunyi-bunyian ini. Semua rasanya tidak pada
tempat. Semuanya serba berlebih, seperti menyantap opor ayam kelebihan santan. Seperti
minum teh yang kebanyakan gula. Memuakkan.
BRAK!
Sontak aku menoleh ke arah komedi putar yang putarannya
entah kenapa selalu tidak stabil. Pada detik itu juga aku menjerit.
***
Warna-warna kembali seperti semula. Monokrom sejati yang
menjemukan lebih nikmat dari sekadar warna-warna artifisial yang sekejap bisa
lenyap. Pasar malam tak pernah sungguhan menawarkan kesenangan. Ia ada bukan
untuk melepas penat. Ia ada untuk memintamu berpikir.
Di tanah lapang yang permukaannya semula datar itu ada
sebuah gundukan kecil dilapis rumput gajah hijau yang segar. Sebuah papan
bercat putih ditancapkan sebagai penanda. Berkunjung ke gundukan itu sekarang,
sudah jadi kebiasaan baru bagiku. Setiap sore, bocah-bocah setempat masih tetap
bermain bola dan aku sebagai penonton setia selalu datang untuk menikmati
permainan serta lantunan nada pemecah senyap lewat jeritan-jeritan mereka.
Bedanya, dahulu aku memandangi mereka sendirian, tetapi kini dari perut
gundukan berlapis rumput segar itu seseorang menemaniku. Seseorang yang akan
selalu ku kenang sebagai simbol kemawasdirian untuk tidak terlena pada hal-hal
semu. Bahwa monokrom sejati lebih layak untuk dinikmati ketimbang warna-warni
tak alami. Bahwa yang kekal adalah sunyi.
Ali sekarang pasti lebih mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar